Pesantren Bisa Membuat Biogas Sendiri

Artikel

Sumber : https://www.facebook.com/biogas.pupuk/photos/a.122939651130748.27354.106862516071795/122994114458635/?type=3&theater

Lebih dari 20.000 pondok pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia dapat berperan yang signifikan dalam meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya melakukan upaya pemanfaatan sumber energi alternatif sekaligus menjaga sanitasi lingkungan. Dalam banyak hal, pesantren menjadi referensi sikap dan perbuatan bagi sebagian besar masyarakat, terutama di pedesaan.

Di sisi lain, pemanfaatan energi hasil pengolahan kotoran manusia, sampah, biomassa, maupun kotoran hewan bagi masyarakat di lingkungan pondok pesantren masih terkendala pemahaman fiqh benda najis dan mutanajjis. Berbagai forum Bahtsul Masa’Il yang diadakan khusus menjawab masalah gas yang dihasilkan dari bahan-bahan najis ini telah banyak dilakukan dan terus menjadi kajian para ulama.

Pondok Pesantren Riyadlul Ulum di Condong Cibeureum Tasikmalaya adalah salah satu pondok dengan jumlah santri lebih dari 2500 orang, sebuah angka yang “cukup” untuk memproduksi biogas dari tinja, sampah sisa makanan, serasah halaman dan biomassa lainnya yang terdapat di lingkungan pesantren seluas 5 Ha sekitar 125 m3 biogas per hari.

Dalam kaitan kepentingan membuat percontohan pengolahan tinja menjadi energi listrik dan sebagai kegiatan rintisan, karena masih terbatasnya dana, baru disiapkan instalasi guna mengolah tinja dan sampah dengan Biogas Digester BD 3000L berkapasitas 3000 liter/ hari, yang dengan itu diharapkan membangkitkan 4,6 m3 biogas/hari.

Biogas hasil fermentasi anaerobik dengan bakteri metagenesis GP-7 ini, yang kemudian dimurnikan dengan methane purifier 12135 ini akan menghasilkan komposisi metan (CH4) tinggi > 70%, yang dengan kualitas itu bisa dijadikan bahan bakar bagi kompor masak memasak di dapur secara stabil dan juga dijadikan bahan bakar menggerakkan generator atau mengganti BBM premium.

Perolehan hasil listrik dari biogas murni (mendekati kandungan CH4 100 %) bisa menggerakkan genset Bio Elektrik 1000 watt secara terus menerus selama 4 hingga 5 jam atau setara dengan 5 KWH (kilo watt hour). Ketika digunakan pada kompor, biogas murni sebanyak itu bisa menyalakan kompor lebih dari 7 jam.

Lumpur (slurry) yang keluar dari output chamber digester digunakan sebagai pupuk kolam, menghidupkan jasad renik dan plankton, sebagai pakan alami terbaik bagi ikan. Dan, makanan ikan pun, kini, bukan lagi material kuning seperti sebelumnya, melainkan plankton. Rasa ikan dari kolam jadi enak dan higienis, dapat dimasak dengan gas kompor gratis, membuat belajar santri yang diterangi listrik lebih khu’su, dan lingkungan pun memiliki sanitasi sesuai standar kesehatan+)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *