Kitab Mauhibah dzi al-Fadhl

Image

Kitab Mauhibah dzi al-Fadhl

 

[Pondokpesantren.net] Kitab ini merupakan Hasyiah (catatan) atas kitab Syarh Muqaddimmah Bafadhal yang ditulis oleh Ibn Hajar al-Haitami. Kitab Mauhibah dzi al-Fadhl pertama kali diterbitkan oleh penerbit al-‘Amirah asy-Syarafiyyah, Mesir dengan tebal empat jilid besar. Ini sungguh luar biasa, melihat bukunya saja kita akan berdecak kagum, kita tidak mungkin menyangka ternyata ada ulama dari Indonesia yang mampu menulis kitab setebal itu.

Menurut pengakuan Syaikh Mahfuzh, kitab Mauhibah dzi al-Fadhl selesai ditulis pada tanggal 19 Jumad ats-Tsaniyyah tahun 1319 H di Makkah. Kitab ini juga merupakan bukti bahwa sang Syaikh bukan hanya digdaya dalam disiplin hadits, teologi, tasawwuf, tetapi ia juga digdaya dalam bidang fiqh.

Kitab Mauhibah dzi al-Fadhl karya Syaikh Mahfuzh ini juga menjadi rujukan penting di dalam setiap pengambilan keputusan hukum Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama. Misalnya,  kita bisa melihatnya pada hasil keputusan Muktamar NU -yang pertama di Surabaya pada bulan Rabi’ ats-Tsani 1345 H atau Oktober 1926 -pada masalah ke 26 tentang hukum tari-tarian dengan lenggak-lenggok dan gerak gemulai.

Dalam Mauhibah dzi al-Fadhl, Syaikh Mahfuzd menyebutkan riwayat al-Bukhari yang menyatakan bahwa Allah melaknat laki-laki yang bergaya menyerupai perempuan, dan perempuan yang bergaya menyerupai laki-laki. Lantas, ia menyatakan bahwa al-‘Azizi mengatakan: “(Oleh karena itu) laki-laki dilarang menyerupai perempuan dalam berpakaian atau pun tingkah lakunya, begitu juga sebaliknya (perempuan dilarang menterupai laki-laki, karena hal itu termasuk mengubah ciptaan Allah swt”. [Jilid, IV, H. 713].

Begitu juga dalam masalah no 27, yaitu masalah mengkhitankan anak setelah beberapa hari dari hari kelahirannya. Di mana dalam hal ini, Syaikh Mahfuzd merujuk kepada kitab Tuhfah al-Muhtaj dan kitab Khazinah al-Asrar

Ia mengatakan: “Dalam kitab Tuhfah al-Muhtaj diterangkan, jika seseorang melakukan khitan kepada anak kecil setelah lewat tujuh hari maka dapat dilakukan pada umur empat puluh hari, jika belum juga maka dapat dilakukan pada umur tujuh tahun karena telah sampai kepada waktu saat mulai diperintahkannya melaksanakan shalat. Adapun keterangan yang dimuat di dalam kitab Khazinah al-Asrar dipahami, menurut para pakar (ahl al-khibrah) anak kecil jika dalam kondisi lemah sehingga tidak bisa dikhitan kecuali setelah berumur sepuluh tahun”. [Jilid, IV, H. 706].

Uraian yang paparkan Syaikh Mahfuzd dalam Mauhibah dzi al-Fadhl-nya sangat terperinci dan mendalam. Ia menjelaskan kata perkata yang dianggap penting dengan penjelasan yang acapkali sangat panjang, Hal ini membuktikan keluasaan pengetahuan Syaikh Mahfuzh.

Di samping itu Syaikh Mahfuzh juga menyuguhkan perbedaan pandangan para ulama. Misalnya, ketika ia menghadirkan kepada para pembacanya perbedaan tentang pengertian ath-thaharah asy-syar’iyyah. Menurutnya, para ulama berbeda pendapat mengenai pengertian ath-thaharah asy-syar’iyyah. Di antaranya pendapat yang mengatakan bahwa ath-thaharah asy-syar’iyyah adalah menghilangkan (zawal) penghalang sebagai akibat adanya hadats atau kotoran (khabats).

Sedang menurut an-Nawawi, ath-thaharah asy-syar’iyyah ialah menghilangkan hadats atau najis atau yang semisal keduanya, seperti tayyamum, dan mandi-mandi yang disunahkan (al-aghsal al-masnunah). Pengertian ath-thaharah asy-syar’iyyah yang diajukan an-Nawawi, menurut Syaikh Mahfuzh, diterima dan diikuti oleh para ulama yang lainnya. Meskipun ada ulama yang menolaknya seperti al-Isnawi. [Jilid I, H. 72].

Realitas perbedaan dalam bidang fiqh adalah hal biasa dan tidak perlu dipersoalkan. Sebab, fiqh adalah gudangnya perbedaan pandangan. Dan apa yang dihadirkan Syaikh Mahfuzh melalui kitab Maubibah-nya menurut hemat penulis adalah sebagai upaya untuk menjelaskan pikiran pendahulunya agar dapat dipahami dengan baik oleh generasi berikutnya. Inilah yang juga disebut merupakan bagian dari menjaga tradisi. Dan sekarang adalah tugas para intelektual Muslim untuk mengikuti jejak langkah Syaikh Mahfuzh dalam menjaga tradisi. Salam….

Tentang Kitab

 Judul  :  Mauhibah dzi al-Fadhl
 Penulis  :  Syaikh Mahfuzh at-Termasi
 Penerbit  :  Mesir- al-‘Amirah asy-Syarafiyyah, tanpa tahun
 Tebal  :  4 Jilid

Post Author: Pengelola

Pengelola (Administrator + editor utama). Hubungi admin di admin@maarif-sintang.org

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *