Kitab Adh-Dharûry fi Ushûl al-Fiqh

 
Image
Adh-Dharûry fi Ushûl al-Fiqh aw Mukhtashar al-Mustashfâ
[PondokPesantren.net] Ibnu Rusyd adalah salah satu tujuh filsuf muslim terkemuka. Muhammad Arkoun, intelektual muslim Aljazair, menjulukinya pionir rasionalitas dan imam progresif (Râid at-Tanwîr al-`Aqlâni). Dia telah banyak menghasilkan karya-karya penting, baik dalam bidang kedokteran, filsafat, akidah, fikih dan ushul fikih. Patut dicacat bahwa semua karya Ibnu Rusyd penuh dengan semangat progresifitas dan pemberontakan terhadap pemikiran yang berkembang saat itu.

Salah satu karya penting yang telah dihasilkan Ibnu Rusyd sebelum menekuni bidang filsafat adalah Adh-Dharûry fi Ushûl al-Fiqh. Sebuah buku yang meringkas sekaligus mengkritik Al-Mustashfâ-nya Al-Ghazali. Buku ini lahir sebagai kritik terhadap epistemologi dan metodologi hukum Islam yang digunakan Al-Ghazali. Karya ini ditulis sekitar bulan Dzulhijjah tahun 552 H. Bisa dibilang, karier intelektual Ibnu Rusyd sebelum menjadi filsuf dimulai dari ketajamannya menguasai ushul fikih.

Pilihan Ibnu Rusyd untuk meringkas serta memberikan komentar atas kitab al-Mustashfa lebih disebabkan faktor ilmiah. Ia melihat bahwa al-Mustashfa pada saat itu merupakan buku tentang Ushul Fiqh yang paling ilmiah dan sistematis. Kita bisa melihat buku-buku Ushul Fiqh sebelum al-Ghazali, bahkan al-Ghazali sendiri dalam al-Mankhul-nya masih belum sistematis dan membingungkan.

Meski karya ini hanya sebuah ringkasan bukan berarti Ibnu Rusyd tidak memberikan sumbangsih pemikirannya. Kritik terhadap Al-Mustashfâ menunjukan keseriusan Ibnu Rusyd dalam memberikan sumbangan pemikirannya dalam bidang ushul fikih. 

Dalam pengantarnya, Ibnu Rusyd menegaskan tujuan buku ini adalah untuk mengingatkan beberapa hal primer dalam Al-Mustashfâ, yang terkait dengan Ushul Fiqh (hal.34). Buku ini terdiri dari empat bagian sebagaimana bagian yang terdapat dalam Al-Mustashfâ. Pertama, ketentuan-ketentuan hukum, kedua, dasar-dasar hukum, ketiga, petunjuk-petunjuk yang digunakan untuk meng-isthimbat-kan hukum dan cara menerapkannya, keempat, kualifikasi seorang mujtahid atau pakar hukum fikih. 

Dalam kacamata Ibnu Rusyd, bagian ketiga adalah bagian yang terpenting sekaligus menjadi identitas (huwiyyah) kajian Usuhl Fiqh (hal. 36). Pandangan Ibnu Rusyd ini jelas bertentangan dengan pandangan Al-Ghazali dan mayoritas pakar hukum lainnya. Sebab, bagi Ibnu Rusyd, pengetahuan itu dibagi menjadi tiga. Pertama, pengetahuan yang tujuannya adalah keyakinan, seperti pengetahuan tentang sifat-sifat Allah. Kedua, pengetahuan yang tujuannya adalah praksis, seperti pengetahuan tentang hukum shalat dan zakat. Ketiga, pengetahuan yang tujuannnya adalah memberikan panduan pemikaran agar menuju jalan yang benar, seperti pengetahuan tentang dalil-dalil dan pembagiannya. [H: 34-35]. 

Melalui tiga pembagian pengetahuan tersebut, kita bisa mengerti akan sikap Ibnu Rusyd yang berseberangan dengan al-Ghazali dan mayoritas ulama. Di mata Ibnu Rusyd, pengetahuan tentang petunjuk-petunjuk yang digunakan untuk meng-isthimbath-kan hukum dan cara menerapkannya, adalah termasuk model pengetahuan yang ketiga. Karenanya, Ibnu Rusyd dengan tegas mengatakan bahwa hal ini merupakan identitas`dari Ushul Fiqh. Sebab, yang lain adalah termasuk model pengetahuan yang berorientasi praksis. 

Di antara pergumulan Ibnu Rusyd dengan pemikiran Ushul Fiqh Al-Ghazali adalah penolakan kerasnya terhadap upaya Al-Ghazali memasukan ilmu logika (mantik) ke dalam ushul fikih, sampai ia berani mengatakan, “Barang siapa yang tidak menguasai logika maka intelektualitasnya perlu diragukan” (hal. 45). 

Sementara menurut Ibnu Rusyd, mantik berbeda dengan Ushul Fiqh. Dia beralasan biarkanlah segala sesuatu tetap pada tempatnya, karena seseorang yang ingin menguasai pengetahuan lebih dari satu dalam satu kesempatan tidak akan bisa menguasainya dengan baik dan tidak juga salah satunya (hal. 37-38). Oleh karena itu, logika dan ushul fikih memiliki tempatnya sendiri-sendiri.

Di halaman-halamn awal buku ini, kita sudah bisa mencium aroma pembrontakan Ibnu Rusyd terhadap pemikiran ushul fikih Al-Ghazali. Ibnu Rusyd dengan tegas menolak perselingkuhan Ushul Fiqh dengan logika dan mengabaikan pengantar Al-Mustasfâ yang dikhususkan oleh Al-Ghazali untuk membahas logika sebelum masuk ke pembahasan ushul fikihnya.

Sementara pada bagian akhir buku ini, Ibnu Rusyd menggaris bawahi pentingnya ijtihad. Ibnu Rusyd mendefinisiakn ijtihad dan menjelakan kualifikasi seorang mujtahid, objek ijtihad, dan kinerja ijihad itu sendiri. Dalam hal ini, Ibnu Rusyd sepakat dengan Al-Ghazali. Menurutnya seorang mujtahid musti menguasai Al-Quran, sunnah, ushul fikih, dan ulumul Qur’an.

Namun selanjutnya Ibnu Rusyd menolak doktrin setiap mujtahid adalah benar, sebuah doktrin yang dianut Al-Ghazali dan mayoritas pakar hukum. Bagi Ibnu Rusyd kaidah ini memiliki kelemahan yang harus mendapat perhatian serius karena akan berakibat seorang mujtahid menghukumi sebuah kasus menurut hawa nafsunya (hal. 140).

Bagi Ibnu Rusyd, tidak setiap mujtahid itu benar. Ia bisa saja keliru. Setiap mujtahid hanya dituntut untuk mencari kebenaran dengan mencurahkan seluruh kemampuannya untuk mencari kebenaran atau yang mungkin benar menurut dirinya. Dan sangat manusiawi jika tidak semua pendapatnya benar.

Sebagai panduan bagi para mujtahid ketika melakukan ijtihad tentang kasus yang tidak ditemukan dalilnya, Ibnu Rusyd mengajukan konsep kebebasan otentik (al-Barâ’ah al-Ashliyyah). Yaitu, salah satu konsep yang masuk dalam ketegori al-Mubâh yang didasarkan kepada firman Allah dalam surat Al-An`âm ayat 38: “Tiadalah Kami alpakan sesuatu apapun dalam Al-Kitab“. (Hal. 139).
   
Pada akhirnya, meski pendapat Ibnu Rusyd yang ada dalam buku ini tidak semuanya bisa disepakati tetapi cukup menarik untuk dibaca. Terutama bagi kalangan yang bergelut dengan disiplin ilmu Ushul Fiqh, dan pemikiran Ibnu Rusyd ini bisa menjadi penyempurna disamping ushul fikih yang lain. Dan sehebat apapun pemikiran Ushul Fiqh Ibn Rusyd, dalam beberapa hal ia tetap membebek Al-Ghazali. Selamat membaca!
 

Tentang Buku :

 Judul :  Adh-Dharûry fi Ushûl al-Fiqh aw Mukhtashar al-Mustashfâ
 Pengarang :  Ibnu Rusyd
 Penerbit   :  Dâr al-`Arab al-Islâmy
 Tahun Terbit   :  1994
 Cetakan :  Pertama

Post Author: Pengelola

Pengelola (Administrator + editor utama). Hubungi admin di admin@maarif-sintang.org

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *